Pencarian

Skema Baru Utang Whoosh: Negara Cicil Rp 1 Triliun per Tahun, Tenor 80 Tahun

Rabu, 09 September 2026 • 06:02:31 WIB
Skema Baru Utang Whoosh: Negara Cicil Rp 1 Triliun per Tahun, Tenor 80 Tahun
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan paparan skema restrukturisasi utang Kereta Cepat Whoosh di Jakarta Utara, Selasa (8/9/2026).

NUSAPERDANA.COM — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membeberkan detail pelunasan kewajiban megaproyek senilai Rp 125 triliun itu. Pernyataan tersebut disampaikan di sela-sela acara di kawasan Sunter, Jakarta Utara, Selasa (8/9/2026).

Langkah ini merupakan tindak lanjut restrukturisasi utang yang selama ini membebani Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Seluruh kewajiban finansial Whoosh kini dikelola langsung oleh negara melalui instrumen di bawah Kemenkeu.

Cicilan Ringan, Tenor Panjang

Purbaya mengungkapkan, pemerintah membayar utang tersebut secara bertahap. Nilainya bervariasi dari tahun ke tahun, namun dipatok di kisaran Rp 1 triliun atau sedikit di bawahnya.

"Berarti kan total utang besar, tapi di-stretch 80 tahun sudah direstrukturisasi. Cicilannya Rp 1 triliun atau sedikit di bawah Rp 1 triliun dari tahun ke tahun. Ada yang tinggi, ada yang rendah, tapi kalau kita lihat 'oh masih bisa lah'," ujarnya.

Soal tenor yang mencapai delapan dekade, Purbaya menilai jumlah tersebut masih masuk akal dan tidak memberatkan fiskal. Ia bahkan melontarkan candaan soal lamanya masa pelunasan tersebut.

"(Tenor cicilan) 80 tahun saya dengar kemarin, makanya hebat juga tuh. Iya kita sudah mati, santai saja," kelakarnya.

Bukan Danantara, Siapa yang Bayar?

Berbeda dengan skema sebelumnya, utang Whoosh tidak lagi ditangani Danantara. Purbaya mengatakan, pembayaran akan dilakukan oleh Special Mission Vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan atau Indonesia Investment Authority (INA).

"Ada kemungkinan, mungkin kita pakai SMV atau INA," jelasnya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (7/9/2026).

Menurutnya, beban tahunan sekitar Rp 1 triliun masih cukup kecil untuk ditangani satu entitas SMV. Ia memastikan kebutuhan anggaran untuk membayar kewajiban tersebut sudah tersedia tanpa perlu mencari investor baru.

"Jadi gini, saya cuma lihat bebannya setiap tahun seperti apa sih. Saya lihat setiap tahun, 'oh kalau segini saja cukup lah ditangani oleh satu SMV. Satu perusahaan SMV di bawah Departemen Keuangan, atau dua. Tapi uangnya cukup lebih'," terangnya.

Kemampuan Bayar Terjamin

Purbaya menegaskan SMV yang nantinya ditunjuk tidak perlu bersusah payah mencari tambahan dana segar. Alasannya, entitas tersebut sudah memiliki arus kas internal yang mumpuni.

"Nggak, sudah ada uangnya. Kan kalau SMV, let's say satu perusahaan SMV aja, keuntungannya berapa sekarang? Rp 3 triliun, Rp 4 triliun setahun. Ditambah dengan operasionalnya sendiri, mungkin dapat Rp 800 miliar keuntungannya," paparnya.

Kendati demikian, Purbaya mengaku perhitungan yang lebih matang masih akan dilakukan sebelum skema final ditetapkan. Keputusan ini menjadi babak baru dalam pengelolaan keuangan proyek kereta cepat pertama di Asia Tenggara tersebut, yang selama ini menjadi sorotan publik terkait pembiayaannya.

Sumber: finance.detik.com

Follow finance.nusaperdana.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks