Pencarian

Penjualan Emas Anjlok 82%, Laba United Tractors (UNTR) Terjun 48% ke Rp4,3 Triliun

Selasa, 08 September 2026 • 06:02:01 WIB
Penjualan Emas Anjlok 82%, Laba United Tractors (UNTR) Terjun 48% ke Rp4,3 Triliun
Penjualan emas United Tractors (UNTR) anjlok 82% pada semester I 2025, menyeret laba bersih perusahaan turun 48% menjadi Rp4,3 triliun.

NUSAPERDANA.COM — Kinerja emiten konstruksi dan alat berat milik Grup Astra ini berbalik arah. Pada semester I 2025, UNTR masih menikmati pendapatan Rp68,5 triliun, namun kini angka tersebut menyusut signifikan. Padahal, di tengah pelemahan, segmen kontraktor penambangan justru tercatat tumbuh berkat penguatan kurs dolar Amerika Serikat.

Operasional Martabe Sempat Terhenti, Penjualan Emas Jeblok

Faktor utama penurunan laba adalah anjloknya kinerja pertambangan emas. PT Agincourt Resources, pengelola Tambang Emas Martabe, mencatat penjualan emas yang merosot 82%. Total penjualan setara emas dari Agincourt dan PT Sumbawa Jutaraya hanya 32 ribu ons hingga Juli 2026, jauh di bawah 143 ribu ons pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur United Tractors, Andreas, mengungkapkan bahwa operasional Tambang Emas Martabe sempat dihentikan sementara. "Tambang Emas Martabe telah kembali melanjutkan operasinya pada periode pelaporan kuartal kedua," ujarnya dalam Public Expose Live, Senin (7/9).

Selain itu, UNTR juga membukukan beban non-recurring items senilai Rp3,3 triliun. Pos ini antara lain berasal dari penurunan nilai aset Supreme Geothermal Energy dan pembayaran terkait kegiatan sebelumnya di kawasan hutan untuk Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di Tambang Nikel Stargate.

Penjualan Alat Berat Komatsu Anjlok Akibat RKAB

Kebijakan pemerintah turut menekan segmen alat berat. Penjualan alat berat Komatsu turun 23% menjadi 2.393 unit hingga Juli 2026. Penurunan paling tajam terjadi pada penjualan big machine untuk sektor pertambangan yang anjlok 49% menjadi 405 unit, seiring dengan alokasi RKAB batu bara nasional yang lebih rendah.

Akibatnya, pendapatan bersih segmen ini terkoreksi 28% menjadi Rp15,0 triliun. Menariknya, pendapatan dari suku cadang dan jasa pemeliharaan justru naik tipis 1% menjadi Rp5,5 triliun, menunjukkan aktivitas perawatan mesin yang tetap berjalan.

Kondisi serupa dialami segmen batu bara yang dijalankan PT Tuah Turangga Agung. Volume penjualan batu bara turun 18% menjadi 6,5 juta ton. Segmen ini mencatat pendapatan Rp12,9 triliun, turun 4% secara tahunan.

Kontraktor Penambangan Jadi Penopang di Tengah Badai

Di tengah tekanan harga komoditas, segmen kontraktor penambangan justru menjadi penyeimbang. PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dan PT Kalimantan Prima Persada (KPP Mining) membukukan pendapatan bersih Rp27,2 triliun, naik 4% berkat penguatan kurs dolar AS.

Meski pendapatan tumbuh, volume pekerjaan pemindahan tanah turun 10% menjadi 573 juta bcm. Produksi batu bara klien juga ikut turun 3% menjadi 80 juta ton hingga Juli 2026, mengikuti penyesuaian target produksi sesuai RKAB. Untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara, PAMA dan KPP Mining mulai memperkuat ekspansi ke sektor emas dan nikel.

Dari lini bisnis nikel, PT Stargate Pasific Resources mencatat penjualan bijih nikel sebesar 973 ribu wmt. UNTR juga mengantongi kontribusi dari Nickel Industries Limited (NIC) dengan kepemilikan 20,13%, yang melaporkan penjualan nickel metal sebanyak 61.622 ton pada Q4 2025 dan Q1 2026.

Utang Naik Usai Akuisisi Tambang Emas

Per 30 Juni 2026, posisi keuangan UNTR berbalik menjadi utang bersih Rp9,4 triliun dengan rasio gearing 8,5%. Sebelumnya, perseroan menikmati kas bersih Rp7,7 triliun per 31 Desember 2025.

Perubahan struktur modal ini dipengaruhi oleh akuisisi perusahaan pertambangan emas serta program pembelian kembali saham (buyback) yang dilakukan perseroan. Langkah ini menunjukkan UNTR tetap agresif berekspansi di tengah siklus pelemahan komoditas.

Ke depan, pemulihan harga emas dan kepastian alokasi RKAB menjadi kunci bagi UNTR untuk mengembalikan kinerja ke level tahun lalu. Diversifikasi ke sektor nikel dan emas diharapkan mampu mengurangi volatilitas pendapatan dari bisnis batu bara yang sangat bergantung pada kebijakan pemerintah.

Sumber: dunia-energi.com

Follow finance.nusaperdana.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks