Pencarian

Erupsi Gunung Anak Krakatau, Kemenhub Pastikan Bandara Sekitar Tetap Beroperasi Normal

Minggu, 06 September 2026 • 06:22:31 WIB
Erupsi Gunung Anak Krakatau, Kemenhub Pastikan Bandara Sekitar Tetap Beroperasi Normal
Petugas memeriksa landasan pacu Bandara Internasional Soekarno-Hatta menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau.

NUSAPERDANA.COM — Layanan transportasi udara di kawasan Jakarta, Banten, dan sekitarnya tetap beroperasi tanpa pembatalan jadwal terbang pasca-aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Otoritas penerbangan memastikan ruang udara aman dilalui armada komersial.

Kementerian Perhubungan mengonfirmasi bahwa uji deteksi partikel menggunakan metode paper test volcanic ash (VA) di Bandara Internasional Soekarno-Hatta memberikan hasil negatif. Tidak ditemukan sebaran material vulkanik di area landasan maupun ruang udara bandara tersibuk di Indonesia tersebut.

Hasil Pemantauan Sebaran Abu Vulkanik dan Jarak Bandara

Berdasarkan peringatan ASHTAM Nomor VAWR3739 yang dirilis pukul 09.10 WIB, otoritas mendata jarak sebaran abu vulkanik terhadap fasilitas bandara utama:

  • Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Tangerang): sekitar 31,4 kilometer dari radius sebaran.
  • Bandara Halim Perdanakusuma (Jakarta Timur): sekitar 31,4 kilometer dari radius sebaran.
  • Bandara Pondok Cabe (Tangerang Selatan): sekitar 18,5 kilometer dari radius sebaran.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Lukman F Laisa menegaskan kelancaran aktivitas penerbangan di bandara hub utama nasional tersebut tetap terkendali penuh.

"Di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta pengamatan menggunakan paper test VA telah dilakukan dan hingga saat ini tidak terdeteksi adanya abu vulkanik," ujar Lukman F Laisa dalam siaran pers Kemenhub.

"Operasional penerbangan di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta tetap berjalan aman, normal, dan lancar," sambungnya.

Koordinasi Jalur Penerbangan dan Langkah Antisipasi Maskapai

Informasi awal aktivitas gunung api diterima Kemenhub lewat laporan Stasiun Meteorologi BMKG di Bandara Soekarno-Hatta sejak Sabtu pagi. Ditjen Perhubungan Udara langsung mengaktifkan jalur mitigasi terpadu untuk memantau pergerakan angin dan potensi sebaran partikel ke koridor udara komersial.

"Direktorat Jenderal Perhubungan Udara terus melakukan pemantauan dan koordinasi secara intensif dengan BMKG, AirNav Indonesia, pengelola bandar udara, dan maskapai penerbangan guna memastikan keselamatan dan kelanjutan operasional penerbangan khususnya pada bandar udara terdampak abu vulkanik," kata Lukman.

Regulator meminta seluruh operator maskapai, pengelola bandara, dan penyedia navigasi penerbangan meningkatkan kewaspadaan. Pemantauan dokumen navigasi resmi seperti NOTAM maupun ASHTAM wajib dipantau berkala guna mengantisipasi perubahan arah sebaran abu secara mendadak.

Kondisi Terkini Gunung Anak Krakatau dan Zona Bahaya

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat erupsi terus berlangsung sejak Jumat malam hingga Sabtu pagi. Aktivitas termonitor jelas dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Pasauran, disertai laporan dentuman dan getaran yang dirasakan sebagian warga di wilayah Jawa Barat.

Kepala PVMBG Rita Susilawati menyatakan kolom abu letusan tidak terlihat secara visual dari pos pantau karena kondisi cuaca dan visibilitas. Namun, rekaman seismik dan visual malam hari mendeteksi pendar merah dari semburan lava pijar di kawah.

"Sampai saat ini pun, kita masih memantau masih terjadi erupsi di Gunung Api Anak Krakatau ini, masih terdengar, masih ada erupsi. Nah, di pagi hari memang di pos pengamatan, kami mengamati juga terdengar suara gemuruh dari pos PGA Krakatau Pasauran," kata Rita dalam jumpa pers daring pada Sabtu (5/9).

"Erupsi menerus ini terjadi dalam durasi beberapa jam, dan untuk di Anak Krakatau ini, memang erupsi menerus dengan semburan lava. Ini fenomena umum," ucap Rita.

Sistem Magma Indonesia Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan radius bahaya 3 kilometer dari kawah aktif. Masyarakat, nelayan, pelaku usaha wisata, serta pendaki dilarang mendekati area kawah guna menghindari bahaya lontaran batu dan material pijar.

Sumber: cnnindonesia.com

Follow finance.nusaperdana.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks