NUSAPERDANA.COM — Transformasi PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) dari perusahaan batu bara menjadi penyedia infrastruktur berkelanjutan mulai menunjukkan hasil nyata. Pada paruh pertama 2026, pendapatan perseroan tumbuh tipis 0,47% menjadi US$ 173 juta, namun komposisinya berubah drastis. Bisnis pengelolaan limbah dan kendaraan listrik kini menjadi mesin utama pendapatan, menggusur posisi batu bara yang sebelumnya dominan.
Direktur sekaligus CFO TOBA, Juli Oktarina, menegaskan bahwa pergeseran sumber pendapatan ini sudah sesuai dengan arah transformasi perusahaan. "Apabila tahun lalu batu bara masih menjadi penyumbang utama pendapatan, kini bisnis nonbatu bara telah tumbuh hingga dua kali lebih besar dan menjadi sumber arus kas perseroan," ujarnya dalam keterangan resmi.
Rugi Menyusut 83%, Margin Kotor Membaik
Perbaikan kinerja terlihat jelas dari laporan laba rugi. Rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menyusut tajam 83% menjadi US$ 19,65 juta, dari sebelumnya US$ 115,61 juta pada semester I 2025. Manajemen menjelaskan, penyusutan ini terjadi karena tidak berulangnya kerugian dari divestasi yang sempat membebani kinerja tahun lalu.
Meski masih mencatatkan rugi, perseroan menyebut hal ini merupakan bagian dari proses transisi bisnis. Beban depresiasi dari akuisisi Cora Environment menjadi faktor kerugian nonkas, sementara biaya pendanaan aksi merger dan akuisisi (M&A) menjadi faktor kerugian berbasis kas. Di sisi operasional, laba kotor konsolidasi justru melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi US$ 28,2 juta, dengan margin laba kotor meningkat ke 16,3% dari sebelumnya 8,1%.
Bisnis Limbah: Kontributor Utama dengan Pertumbuhan 77,8%
Segmen pengelolaan limbah menjadi penyumbang terbesar pendapatan TOBA dengan raihan US$ 105,9 juta atau setara Rp 1,87 triliun, tumbuh 77,8% secara tahunan. Segmen ini bahkan menyumbang 92% terhadap EBITDA konsolidasi perseroan. Kenaikan ini didorong oleh operasional penuh dari tiga entitas pengelola limbah, termasuk Cora Environment di Singapura yang mengelola 752.000 ton limbah dengan tingkat ketersediaan pabrik mencapai 86%.
Electrum: Pendapatan Naik 184%, Raih Laba Kotor Perdana
Ekosistem kendaraan listrik milik TOBA, Electrum, mencetak pertumbuhan paling agresif. Pendapatan segmen ini melonjak 184% menjadi US$ 9,1 juta pada semester I 2026. Yang lebih penting, laba kotor segmen ini berhasil berbalik positif menjadi US$ 0,4 juta, setelah sebelumnya mencatatkan rugi kotor US$ 0,5 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Pencapaian ini ditopang oleh operasional yang kian matang. Hingga saat ini, Electrum telah memiliki hampir 14.000 unit motor listrik dan 550 unit stasiun penukaran baterai (battery swapping station), dengan lebih dari 1,7 juta transaksi penukaran baterai setiap bulannya. Total jarak tempuh kendaraan dalam ekosistem ini pun telah melampaui 135 juta kilometer.
Proyek EBT Baru dan Penguatan Neraca
Di sektor energi terbarukan, TOBA mulai menikmati kontribusi dari Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) berkapasitas 6 MW yang telah beroperasi penuh. Perseroan juga tengah menggarap proyek PLTS Terapung berkapasitas 46 MWp yang ditargetkan beroperasi pada kuartal IV 2026.
Dari sisi neraca, posisi kas perusahaan tercatat solid di angka US$ 94,7 juta per akhir Juni 2026. Langkah refinancing obligasi rupiah melalui Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) II dan III juga berhasil mengalihkan US$ 27,5 juta dari kewajiban jangka pendek, sekaligus menurunkan total liabilitas jangka pendek sebesar 13,5% secara tahunan. Dengan fondasi ini, TOBA tampak siap melanjutkan ekspansi di luar bisnis batu bara.