NUSAPERDANA.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,43% ke level 6.121,7 pada perdagangan Selasa (29/9). Investor mencermati penetapan APBN 2027 oleh DPR yang mempertahankan defisit fiskal sesuai usulan awal nota keuangan, yakni Rp 671,16 triliun atau setara 2,4% dari produk domestik bruto (PDB).
Penurunan IHSG pada perdagangan Selasa (29/9) mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar menyusul penetapan APBN 2027 oleh DPR. Defisit fiskal yang dipertahankan di angka Rp 671,16 triliun atau 2,4% dari PDB menjadi sinyal bahwa pemerintah tetap memilih ruang fiskal moderat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Selain APBN 2027, pasar juga mencermati kebijakan aturan baru terkait minimal transaksi Rp 1 yang menjadi fokus pelaku pasar. Kombinasi kedua sentimen ini membuat investor cenderung menahan posisi pada sesi perdagangan.
Defisit Fiskal 2,4% PDB Jadi Acuan Investor
DPR menetapkan defisit fiskal APBN 2027 sesuai dengan usulan awal nota keuangan, yakni Rp 671,16 triliun atau setara 2,4% dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini menunjukkan pemerintah tetap menjaga disiplin fiskal di level yang dianggap aman oleh pasar.
Bagi investor, kepastian defisit fiskal menjadi penting karena berkaitan langsung dengan rencana penerbitan surat utang negara (SUN) dan tekanan terhadap pasar obligasi. Defisit yang lebih besar dari perkiraan biasanya berdampak pada kenaikan yield obligasi dan pelemahan rupiah.
Rupiah dan Aturan Minimal Rp 1 Jadi Sorotan
Selain APBN 2027, pasar juga mencermati aturan baru terkait minimal transaksi Rp 1 yang menjadi fokus pelaku pasar. Kebijakan ini berpotensi mempengaruhi likuiditas dan perilaku transaksi di pasar keuangan, sehingga investor menanti detail implementasinya.
Rupiah menjadi salah satu aset yang paling sensitif terhadap kombinasi sentimen fiskal dan regulasi baru. Pergerakan kurs akan menjadi indikator utama apakah pasar menerima kebijakan tersebut dengan positif atau justru sebaliknya.
Rekomendasi Saham untuk Perdagangan Hari Ini
Di tengah tekanan IHSG, beberapa analis merekomendasikan strategi selektif pada saham-saham yang memiliki fundamental kuat dan likuiditas tinggi. Sektor perbankan dan konsumen masih menjadi pilihan utama karena ketahanan labanya di berbagai kondisi pasar.
Investor disarankan mencermati level support IHSG di sekitar 6.100 dan resistance di 6.200. Jika indeks mampu bertahan di atas support, peluang rebound masih terbuka, terutama jika sentimen dari APBN 2027 dan aturan minimal Rp 1 mulai tercerna pasar.
Namun, jika tekanan jual berlanjut, investor perlu mewaspadai potensi penurunan lebih dalam. Strategi average down sebaiknya dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan profil risiko masing-masing.
Apa Artinya bagi Pelaku Pasar
Penetapan APBN 2027 dengan defisit 2,4% dari PDB memberikan kepastian arah fiskal bagi pelaku pasar. Bagi investor obligasi, angka ini menjadi acuan untuk memperkirakan pasokan SUN dan arah yield ke depan.
Bagi investor saham, fokus utama tetap pada sektor-sektor yang diuntungkan oleh belanja pemerintah, seperti infrastruktur dan konstruksi. Sementara itu, aturan minimal Rp 1 perlu dicermati dampaknya terhadap likuiditas pasar secara keseluruhan.
Pelaku pasar menanti detail lebih lanjut mengenai implementasi aturan tersebut serta respons rupiah dalam beberapa sesi ke depan. Kedua faktor ini akan menjadi penentu arah IHSG dalam jangka pendek.