Pencarian

Emas Anjlok ke US$ 4.297 Dipicu Ekspektasi Suku Bunga The Fed Naik

Selasa, 15 September 2026 • 07:03:01 WIB
Emas Anjlok ke US$ 4.297 Dipicu Ekspektasi Suku Bunga The Fed Naik
Harga emas turun ke US$ 4.297 per troy ons seiring ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

NUSAPERDANA.COM — Pelemahan logam mulia ini berbanding terbalik dengan penguatan 0,73% yang terjadi pada akhir pekan sebelumnya. Data dari Refinitiv menunjukkan posisi penutupan tersebut merupakan titik terlemah dalam lebih dari sebulan terakhir.

Inflasi AS dan Geopolitik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama

Akar masalah pelemahan harga emas terletak pada dua faktor makroekonomi yang saling menguatkan: data inflasi Amerika Serikat yang memanas dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Indeks Harga Konsumen (CPI) AS naik 0,4% pada Agustus, jauh melampaui kenaikan tipis 0,1% pada Juli. Angka ini dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS dan langsung mengubah ekspektasi pelaku pasar.

Kenaikan CPI tersebut mengindikasikan tekanan harga masih kuat, sehingga mayoritas ekonom yang disurvei Reuters kini memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada Rabu (16/9/2026). Bahkan, terdapat proyeksi setidaknya satu kenaikan lagi hingga akhir Maret mendatang. CME FedWatch Tool mencatat peluang kenaikan suku bunga mencapai sekitar 93%.

Sementara itu, sentimen negatif diperparah oleh lonjakan harga minyak mentah sebesar 4% pada Senin. Hal ini terjadi setelah serangan baru terhadap infrastruktur energi Arab Saudi dan insiden kapal-kapal di Teluk yang melibatkan Iran. Kenaikan harga energi secara historis mendorong ekspektasi inflasi global, yang kemudian memicu bank sentral untuk memperketat kebijakan moneter.

Mengapa Suku Bunga Tinggi Membunuh Daya Tarik Emas?

Secara teori, emas sering dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Namun, dinamika pasar saat ini menunjukkan mekanisme yang berbeda. Ketika suku bunga naik, daya tarik aset tanpa imbal hasil seperti emas menurun drastis karena investor beralih ke instrumen berpendapatan tetap seperti obligasi atau deposito.

Jim Wyckoff, analis pasar di American Gold Exchange, menjelaskan korelasi tersebut kepada Reuters. "Kenaikan tajam harga minyak mentah hari ini mendorong ekspektasi inflasi. Kondisi ini mengindikasikan bank-bank sentral utama dunia perlu memperketat kebijakan moneter untuk mengendalikan inflasi, dan itu menjadi sentimen negatif bagi logam," kata Wyckoff.

Tekanan jual juga datang dari penguatan dolar AS. Mata uang Paman Sam ini naik ke level tertinggi dalam dua pekan. Karena emas dihargai dalam dolar, penguatan mata uang tersebut membuat logam mulia menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan global berkurang.

Risiko Lanjutan dari Kebijakan Bank Sentral Global

Pergerakan negatif emas belum sepenuhnya berhenti. Pada Selasa (15/9/2026), harga emas masih melemah 0,18% ke posisi US$ 4.289,73 per troy ons. Tren ini didukung oleh potensi pengetatan moneter dari yurisdiksi lain, termasuk Jepang. Bank of Japan (BoJ) diperkirakan akan menaikkan suku bunga pada Jumat nanti.

Pertimbangan BoJ serupa dengan The Fed, yakni merespons kenaikan harga energi dan ketidakpastian geopolitik yang belum mereda. Upaya diplomasi di Timur Tengah pun tampak menemui jalan buntu setelah pertemuan antara Iran dan negara-negara Teluk ditunda. Ketidakpastian ini menjaga volatilitas pasar komoditas tetap tinggi.

Bagi investor Indonesia, fluktuasi harga emas global ini berdampak langsung pada harga emas batangan domestik. Meskipun kurs rupiah tidak disebutkan secara spesifik dalam laporan ini, pergerakan harga internasional biasanya menjadi acuan utama bagi produsen emas lokal dalam menetapkan harga beli kembali (buyback). Investor disarankan memantau hasil rapat FOMC The Fed pada Rabu sebagai penentu arah pasar minggu ini.

Sumber: cnbcindonesia.com

Follow finance.nusaperdana.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks