Wall Street Rebound, Dow Jones Naik 316 Poin Ditopang Saham Teknologi
NUSAPERDANA.COM — Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 316,14 poin atau 0,61% ke level 51.778,04 pada perdagangan Kamis (17/9), disusul S&P 500 yang naik 1,14% ke 7.637,76 dan Nasdaq Composite melesat 1,69% ke 26.418,30. Penguatan bursa Amerika Serikat ini ditopang penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan harga minyak, sekaligus memulihkan kerugian sehari sebelumnya pasca keputusan Federal Reserve menaikkan suku bunga.
Pasar saham Amerika Serikat berbalik menguat setelah terkoreksi pada Rabu, ketika Federal Reserve menaikkan suku bunga federal funds sebesar 25 basis poin. Penurunan imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun kembali ke bawah level 5%, tepatnya 4,93% atau turun lebih dari 7 basis poin, menjadi salah satu pemicu utama aksi beli investor. Sehari sebelumnya, imbal hasil tenor tersebut sempat menembus 5% sebagai respons terhadap keputusan The Fed.
CEO The Wealth Alliance Robert Conzo menilai penguatan pasar mencerminkan kelegaan investor terhadap langkah bank sentral AS dalam merespons tekanan inflasi.
"Reaksi pasar dapat dirangkum dalam satu kata: lega. Saya pikir ada rasa lega bahwa The Fed sedang menangani masalah inflasi yang sulit turun," kata Conzo dikutip dari CNBC, Jumat (18/9).
Saham Teknologi dan AI Jadi Motor Penggerak
Sektor teknologi memimpin penguatan indeks. Saham kelompok Magnificent Seven, Nvidia dan Amazon, masing-masing naik lebih dari 2%, sementara Microsoft menguat 1,5%. Saham lain yang berkaitan dengan sektor kecerdasan buatan (AI), Qualcomm dan Intel, juga melesat masing-masing 2% dan 7%.
Kenaikan saham-saham berkapitalisasi besar ini memberi dorongan signifikan terhadap Nasdaq Composite, yang mencatat kenaikan persentase terbesar di antara tiga indeks utama Wall Street.
Harga Minyak Turun, Sentimen Positif bagi Pasar
Harga minyak mentah AS ditutup turun 0,51% menjadi US$ 101,91 per barel, sedangkan minyak Brent turun 0,95% menjadi US$ 104,82 per barel. Penurunan ini terjadi seiring meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan.
Arab Saudi dilaporkan memutuskan menyediakan lebih banyak kargo minyak mentah bagi perusahaan pengilangan di Asia melalui transfer antarkapal di sekitar Pelabuhan Sohar, Oman. Langkah ini meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi kelangkaan pasokan energi global.
Risiko Volatilitas Masih Membayangi
Meski pasar menguat, Conzo mengingatkan potensi volatilitas ekstrem masih membayangi, terutama bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah. Menurut dia, kenaikan harga minyak yang berkepanjangan dapat kembali meningkatkan tekanan inflasi.
"Jika harga minyak tetap tinggi, inflasi harga akan diteruskan kepada peritel dan tertanam dalam harga yang mereka bebankan kepada konsumen," katanya.
Conzo menambahkan, harga minyak yang bertahan di level tinggi dapat membuat persoalan inflasi semakin besar sehingga semakin sulit untuk ditekan. Kondisi tersebut berpotensi mendorong peritel meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen melalui harga barang.
Arti bagi Investor Global dan Pasar Indonesia
Rebound Wall Street menjadi sinyal positif bagi pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Penguatan indeks AS dan penurunan imbal hasil Treasury biasanya mendorong aliran modal ke aset berisiko di negara berkembang. Investor domestik dapat mencermati dampaknya terhadap pergerakan IHSG dan nilai tukar rupiah pada sesi perdagangan berikutnya.
Namun, arah pasar masih bergantung pada dua faktor utama: perkembangan harga minyak dan sinyal lanjutan dari The Fed terkait lintasan suku bunga. Kedua variabel ini akan menentukan apakah penguatan Kamis berlanjut atau hanya bersifat sementara.