Danantara Masuk Proyek Etanol Bertahap, Bidik Swasembada Bensin Lewat E20

Danantara menyiapkan masuk ke proyek pengembangan etanol secara bertahap dalam tiga tahun ke depan.
Penulis: Yasir
Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:21:31 WIB

NUSAPERDANA.COM — Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia menyiapkan masuk ke proyek pengembangan etanol secara bertahap dalam tiga tahun ke depan, menyusul keberhasilan penghentian impor solar lewat mandatori B50. Langkah ini menjadi bagian dari strategi transisi dan ketahanan energi nasional, dengan pemerintah membidik capaian serupa untuk komoditas bensin melalui campuran etanol E20.

Chief Operating Officer Danantara Indonesia Dony Oskaria menyatakan keterlibatan perseroan tidak berhenti pada penanaman bahan baku. Danantara juga akan membangun fasilitas pengolahan etanol hingga tuntas dalam kurun waktu tiga tahun.

Pemerintah kini membidik penghentian impor bensin dengan pola yang sama seperti yang diterapkan pada solar. Sejumlah negara bahkan telah mengadopsi campuran etanol tinggi hingga E50, sementara Indonesia akan memulainya dari E20.

Solar Sudah Selesai, Bensin Jadi Target Berikutnya

Dony menegaskan keberhasilan mandatori B50 membuat Indonesia tidak lagi mengimpor solar. Capaian itu menjadi basis untuk mereplikasi strategi serupa pada bensin.

"Salah satunya tadi dalam rangka kita melakukan ketahanan energi, swasembada energi, khususnya untuk kan kita solar sudah selesai ya, dengan B50, sehingga kita sudah tidak lagi impor solar. Ke depan kita harapkan juga sama dengan bensin," ujar Dony usai acara Executive Breakfast Meeting Dua Tahun Danantara di The Tribrata Darmawangsa, Jakarta Selatan, Jumat (2/10).

Untuk bensin, beberapa negara telah menerapkan campuran etanol tinggi. Indonesia memilih jalur bertahap dengan E20 sebagai langkah awal menuju swasembada energi.

"Nah, bensin ini kan beberapa negara sudah bahkan sudah ada E50. Nah, kita juga dalam rangka untuk menjadikan negara kita berswasembada secara energi, kita juga mulai untuk memikirkan mulai dari E20 dulu nantinya," ujarnya.

Molase dan Tebu Jadi Kunci Pasokan Bahan Baku

Bahan baku utama etanol berasal dari molase atau tetes tebu. Konsekuensinya, pemerintah akan menggenjot penanaman tebu secara masif untuk memastikan pasokan bagi transisi energi hijau tersebut.

"Bahan baku etanol ini kan dari terutama sekali dari molase dari tebu. Nah, karena itu pemerintah ke depannya akan menggencarkan untuk proses penanaman tebu, ya, yang kita harapkan nanti akan menjadi bagian daripada transisi energi kita," jelas Dony.

Rencana perluasan lahan tebu itu menyentuh langsung pelaku usaha perkebunan dan industri gula. Pasokan molase yang selama ini jadi produk sampingan pabrik gula berpotensi naik permintaannya seiring berjalannya program etanol.

Rangkaian Investasi Ditargetkan Rampung Tiga Tahun

Keterlibatan Danantara mencakup tiga tahap sekaligus: menanam bahan baku, membangun pabrik etanol, dan menyelesaikan seluruh rangkaian investasi. Dony menargetkan semuanya tuntas dalam tiga tahun ke depan.

"Iya, termasuk membangun, menanam, kemudian membangun pabrik etanol juga. Kita harapkan nanti pemerintah kan berharap dalam tiga tahun ke depan sudah selesai seluruh investasi yang kita lakukan," pungkas Dony.

Bagi pelaku pasar, masuknya Danantara ke rantai nilai etanol menandai pergeseran peran badan pengelola investasi dari sekadar pengelola dana menjadi penyuntik modal proyek energi. Skema ini membuka peluang kemitraan bagi perusahaan perkebunan, produsen molase, hingga kontraktor pembangunan pabrik.

Yang belum terungkap dari paparan Dony adalah besaran nilai investasi, struktur pendanaan, dan lokasi proyek. Ketiga hal itu akan menentukan seberapa cepat target tiga tahun bisa dieksekusi, terutama karena pembangunan pabrik etanol butuh kepastian pasokan tebu dalam volume besar.

Reporter: Yasir