NUSAPERDANA.COM — Bea Cukai menindak 1.435 bal pakaian impor diduga bekas sepanjang Agustus–September 2026, tetapi aktivitas thrifting di pasar-pasar barang bekas kota besar justru tidak surut. Harga mulai Rp 10.000 per potong membuat konsumen tetap berburu, sementara Direktur Jenderal Bea dan Cukai mengakui permintaan masyarakat menjadi salah satu alasan pakaian bekas impor terus masuk.
Penindakan terhadap 1.435 bal pakaian impor yang diduga bekas dilakukan Bea Cukai pada periode Agustus hingga September 2026. Meski begitu, pasar-pasar yang menjual barang bekas di kota-kota besar tetap ramai, terutama pada akhir pekan. Pasar Senen di Jakarta, Monza di Medan, dan Cimol di Gedebage, Bandung, menjadi contoh titik pertemuan antara barang bekas impor dan konsumen yang mencari harga miring.
Direktur Jenderal Bea dan Cukai mengakui bahwa salah satu penyebab pakaian bekas impor terus masuk adalah permintaan masyarakat yang masih tinggi. Artinya, penindakan di sisi hulu berjalan beriringan dengan permintaan yang tidak surut di sisi hilir.
Harga Rp 10.000 hingga Ratusan Ribu Jadi Daya Tarik
Pakaian bekas ditawarkan mulai Rp 10.000 hingga ratusan ribu rupiah. Selisih harga dengan pakaian baru membuat thrifting bukan sekadar alternatif, melainkan pilihan utama bagi sebagian konsumen. Budaya ini juga punya kosakata lokal: awul-awul di pasar Jogja dan Solo, serta cakar di Makassar.
Survei Jakpat terhadap 1.158 responden Gen Z yang dimuat Databoks Katadata pada Februari 2026 menunjukkan harga terjangkau dipertimbangkan oleh 65% responden setelah faktor kenyamanan. Kualitas bahan dan daya tahan disebut 61% responden, diikuti kemudahan dipadupadankan 42%, dan kesesuaian dengan kepribadian 41%.
Data tersebut menegaskan bahwa harga, kualitas, dan gaya tidak saling meniadakan dalam keputusan pembelian pakaian bekas.
Tiga Bingkai Komunikasi di TikTok: Ekonomi, Gaya Hidup, Keberlanjutan
Penelitian terhadap 12 video thrifting paling banyak ditonton sepanjang 2025 dari empat influencer TikTok Indonesia menemukan tiga bingkai utama. Bingkai ekonomi paling dominan, disusul gaya hidup, sementara keberlanjutan menjadi yang paling jarang muncul.
Bahasa ekonomi terasa kental dalam konten tersebut. Harga miring diucapkan dengan antusias, disertai perbandingan harga, tawar-menawar, dan keputusan meninggalkan barang yang dianggap terlalu mahal. Keberhasilan bagi para kreator adalah ketika mereka mendapat pakaian bagus dengan harga rendah.
Bahasa gaya hidup muncul setelahnya. Pakaian disebut cute atau elegan, dengan referensi Y2K, Mori Kei, Harajuku, hingga coquette. Merek seperti Uniqlo, Zara, Brandy Melville, dan Polo Ralph Lauren disebut saat menjelaskan temuan. Bahan, tekstur, bordir, motif, dan potongan juga menjadi bahan penilaian.
Kepuasan thrifting muncul ketika dua hal bertemu: barang menarik dan harga masuk akal.
Keberlanjutan yang Tidak Disebut Namanya
Nyaris tidak ada pembahasan eksplisit soal pengurangan limbah tekstil, emisi karbon, atau ekonomi sirkular dalam video yang diteliti. Namun, praktik yang sejalan dengan keberlanjutan tetap hadir tanpa label.
Seorang kreator menyebut cacat kecil pada pakaian masih bisa dijahit. Noda dianggap mungkin dibersihkan. Pakaian bekas dapat dicuci sebelum dipakai kembali. Kekurangan kecil tidak otomatis menghilangkan nilai sebuah pakaian.
Komunikasi sustainability sering disampaikan lewat istilah besar seperti ekonomi sirkular, konsumsi berkelanjutan, dekarbonisasi, dan net-zero emissions. Semua konsep itu penting bagi kebijakan dan bisnis. Namun, keputusan konsumen sehari-hari dirumuskan dengan kosakata jauh lebih sederhana: murah, bagus, masih layak, bisa diperbaiki, dan eman-eman dalam bahasa Jawa.
Konsep lungsuran, ketika pakaian yang kekecilan tetapi masih layak diberikan dari kakak ke adik, sudah ada turun-temurun dalam keluarga Indonesia. Itu sebenarnya ekonomi sirkular, meski tidak pernah disebut demikian dalam percakapan sehari-hari.
Apa Artinya bagi Pelaku Bisnis dan Konsumen
Temuan ini membuka pertanyaan bagi komunikasi keberlanjutan, termasuk di dunia bisnis. Pesan lingkungan yang dikemas dengan jargon besar cenderung tidak sampai ke konsumen thrifting. Sebaliknya, bahasa ekonomi dan gaya hidup yang sudah akrab justru lebih efektif menyampaikan nilai keberlanjutan tanpa harus menyebutnya.
Bagi pelaku usaha di sektor fesyen, paradoks antara penindakan impor dan tingginya permintaan menunjukkan bahwa pendekatan larangan saja tidak cukup. Selama harga pakaian baru belum terjangkau dan alternatif lokal belum memadai, pasar barang bekas akan terus hidup, baik dari pasokan impor maupun dari aliran pakaian antaranggota keluarga dan komunitas.