Kisah Ken Griffin, Pendiri Citadel yang Kini Kekayaannya Capai Rp943 Triliun, Kalahkan Komunitas Kripto

Ken Griffin, pendiri Citadel, tercatat sebagai orang terkaya ke-37 dunia versi Forbes dengan kekayaan mencapai Rp943 triliun.
Penulis: Yasir
Senin, 31 Agustus 2026 | 08:34:01 WIB

NUSAPERDANA.COM — Kekayaan Griffin hampir seluruhnya bersumber dari kepemilikan sahamnya di Citadel LLC, perusahaan investasi alternatif yang kini mengelola dana sekitar US$68 miliar. Di luar itu, ia juga pemilik utama Citadel Securities, perusahaan market maker yang menangani 20–25 persen total volume perdagangan saham ritel di bursa Amerika Serikat setiap harinya.

Artinya, setiap kali investor ritel bertransaksi di bursa AS, kemungkinan besar order tersebut mengalir lewat sistem algoritma yang dibangun oleh perusahaan miliknya. Pengaruh Griffin di pasar modal modern nyaris tak tertandingi, mengingat posisi strategis perusahaannya sebagai penyedia likuiditas utama di pasar ekuitas Negeri Paman Sam.

Kekayaan dan Sumber Utama

Berdasarkan catatan Forbes per Minggu (30/8), Griffin menempati peringkat ke-37 daftar orang terkaya dunia. Jika dirinci, portofolio kekayaannya tidak hanya berbentuk saham di Citadel, tetapi juga aset properti mahal di berbagai kota besar AS.

Griffin pernah memecahkan rekor sebagai pembeli rumah termahal dalam sejarah AS saat membeli penthouse di New York City seharga US$238 juta atau sekitar Rp4,23 triliun. Aksi ini menegaskan seleranya terhadap aset-aset premium bernilai tinggi.

Dari Kamar Asrama ke Wall Street

Perjalanan Griffin dimulai saat berusia 19 tahun dan masih berstatus mahasiswa di Harvard. Ia nekat membujuk pihak kampus untuk mengizinkannya memasang antena parabola di atap asrama demi mendapatkan kuotasi harga pasar secara real-time lewat satelit. Upaya itu ia lakukan untuk bertransaksi obligasi langsung dari kamar tidurnya.

Keberaniannya membuahkan hasil saat tragedi Black Monday 1987. Dari kamar asrama itulah ia mencetak keuntungan besar pertamanya ketika pasar saham runtuh. Modal awal pendirian Citadel pada 1990 hanya US$4,6 juta atau sekitar Rp81,68 miliar, yang ia kumpulkan dari keluarga dan kerabatnya.

Saat sebagian besar investor Wall Street era 90-an masih mengandalkan intuisi dan koneksi telepon, Griffin justru mengambil pendekatan berbeda: kuantitatif dan teknologi. Ia merekrut para ahli matematika, fisikawan, dan ilmuwan komputer terbaik untuk membangun kode serta algoritma super cepat yang mampu mendeteksi ketidakefisienan harga sebelum pelaku pasar lain menyadarinya.

Bangkit dari Krisis 2008 dan Mengalahkan Komunitas Kripto

Strategi tersebut terbukti ampuh. Ketika krisis finansial 2008 mengguncang pasar keuangan global, Citadel berhasil bangkit dan menjadi salah satu institusi paling konsisten menghasilkan keuntungan di dunia finansial. Kemampuannya tetap tenang di tengah badai ekonomi dan mengalkulasi risiko dengan presisi tinggi menjadikannya sosok paling berpengaruh di abad ke-21.

Pada 2021, Griffin terlibat persaingan sengit dengan kelompok desentralisasi kripto bernama Constitution DAO. Komunitas itu menggalang dana kolektif hampir US$40 juta untuk membeli cetakan asli Konstitusi Amerika Serikat tahun 1787 di rumah lelang Sotheby's. Di menit-menit akhir, Griffin masuk ke pelelangan dan memenangkannya dengan tawaran US$43,2 juta atau setara Rp767,1 miliar.

Uniknya, alih-alih menyimpan dokumen bersejarah itu di brankas pribadi, Griffin justru meminjamkannya ke museum publik agar bisa dinikmati masyarakat luas secara gratis. Keputusan ini memperlihatkan sisi lain dari sosok yang dikenal agresif di pasar modal.

Loyalitas pada Karyawan dan Gaya Hidup Mewah

Di balik kesuksesannya, Griffin dikenal loyal pada karyawannya. Ia pernah menyewa seluruh area Walt Disney World di Florida, lengkap dengan tiket pesawat, hotel, hingga pertunjukan, untuk menghibur ribuan karyawan Citadel sebagai bentuk perayaan atas rekor keuntungan perusahaan yang diraih berkat kinerja timnya.

Kombinasi antara kecerdasan kuantitatif, keberanian mengambil risiko, dan adaptasi terhadap kemajuan teknologi menjadi fondasi utama kesuksesan Griffin. Ia membuktikan bahwa pendekatan berbasis data mampu mengungguli naluri tradisional para pelaku pasar lama.

Reporter: Yasir