Fesmed Selat Malaka 2026 Soroti Biaya Ekologis di Balik Investasi AI dan Data Center
NUSAPERDANA.COM — Investasi pusat data global pada kuartal pertama 2026 mencapai sekitar US$131 miliar atau setara Rp2.300 triliun, menurut data yang dipaparkan dalam Festival Media Selat Malaka 2026. Angka itu setara 94 persen dari total investasi asing di sektor komunikasi global. Di balik gemerlapnya, kebutuhan energi, air, dan lahan pusat data dinilai perlu diawasi ketat karena menyimpan biaya ekologis yang besar.
Diskusi bertema "Membaca Perkembangan Teknologi AI dan Data Center" digelar di Gedung Technopreneur Politeknik Negeri Batam, Sabtu (19/9/2026). Forum ini dimoderatori Anggota Bidang Penyiaran AJI Indonesia, Nurika Manan, dengan menghadirkan akademisi dan praktisi media sebagai pemateri.
Dosen Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada, Dr. Suci Lestari Yuana, M.Sc., menyebut Indonesia tengah berupaya menambah kapasitas pusat data. Kapasitas yang disebut dalam diskusi mencapai 580 megawatt dan ditargetkan naik menjadi 1,3 gigawatt, dengan kebutuhan investasi sekitar US$15–20 miliar.
Daya Tarik Investasi dan Soal Realisasi Komitmen
Menurut Suci, Indonesia punya daya tarik karena biaya konsumsi pusat data di dalam negeri lebih rendah dibandingkan Singapura. Namun ia mengingatkan besarnya nilai investasi yang diumumkan tidak otomatis menunjukkan seluruh komitmen terealisasi.
Dalam konteks Batam, Suci menyoroti klaim investasi pusat data yang mencapai Rp88 triliun. Angka komitmen itu, katanya, perlu dilihat kembali berdasarkan tingkat realisasinya di lapangan.
"Informasi tingkat realisasi [penting] karena sering dibahas itu komitmen investasi, [sementara] apakah warga yang terdampak sudah dilibatkan?" ujarnya.
Suci mendorong media agar tidak hanya menempatkan pusat data dari perspektif peluang investasi. Aspek biaya sosial, biaya ekonomi, kebutuhan sumber daya, dan dampak lingkungan dinilainya perlu jadi bagian integral peliputan.
Proyeksi 2030: Listrik 945 Terawatt-jam dan Air Setara 1,3 Miliar Penduduk
Ketua Tim Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Yuyun Harmono, memaparkan materi bertajuk "Data, Kolonialisme, dan Biaya Ekologis Pusat Data". Ia menyoroti kebutuhan material, energi, air, dan lahan yang menyertai pembangunan infrastruktur digital.
Digitalisasi tidak lagi sebatas perangkat lunak. Perkembangan AI membutuhkan pusat data, jaringan serat optik, hingga pembangkit listrik, sehingga membentuk infrastruktur fisik dengan konsumsi sumber daya sangat besar.
Proyeksi penggunaan sumber daya pusat data global untuk AI pada 2030 yang dipaparkan Yuyun:
- Kebutuhan listrik mencapai 945 terawatt-jam
- Jejak penggunaan air setara kebutuhan 1,3 miliar penduduk
- Kebutuhan lahan sekitar 14.500 kilometer persegi
Beban Listrik Batam dan Rencana Tambahan Kapasitas
Batam jadi salah satu wilayah yang disorot. Terdapat 20 pusat data di Batam dengan kapasitas 126 megawatt yang telah beroperasi, serta rencana penambahan kapasitas 1,4 gigawatt.
Materi Greenpeace mencatat daya pasok listrik Batam sebesar 812 megawatt dengan beban puncak 741 megawatt. Pada saat yang sama, ada rencana pembangunan PLTU batu bara 300 megawatt dan penambahan pembangkit gas 120 megawatt.
Yuyun merekomendasikan pembangunan pusat data memperhatikan energi terbarukan berkelanjutan. Ia juga menekankan sistem pendingin bersirkuit tertutup agar air bersih tidak terbuang, pemanfaatan kembali minimal 25 persen panas buangan, serta kewajiban membuka indikator lingkungan secara transparan.
Kebutuhan Daya per Rak Naik Tajam untuk AI
Redaktur Katadata, Reza Aji, berbagi pengalaman peliputannya soal pusat data di Batam. Persoalan ketersediaan air jadi salah satu alasan ia mengangkat isu ini.
Menurut Reza, perkembangan AI mengubah kebutuhan teknis pusat data. Kebutuhan daya pada satu rak yang sebelumnya 5–10 kilowatt bisa melonjak menjadi sekitar 30–50 kilowatt ketika dialihfungsikan untuk AI.
"Artinya, kebutuhan listriknya naik dan kebutuhan airnya naik," kata Reza.
Ia menyebut terdapat sekitar 200 pusat data di Indonesia, dengan 18 di antaranya berlokasi di Batam berdasarkan data yang dipaparkannya.