Pencarian

WMO Peringatkan El Nino Capai Rekor Terkuat, Suhu Pasifik Melonjak +3,7 Derajat

Minggu, 11 Oktober 2026 • 06:42:01 WIB
WMO Peringatkan El Nino Capai Rekor Terkuat, Suhu Pasifik Melonjak +3,7 Derajat
Suhu permukaan laut Pasifik tropis diproyeksikan mencapai +3,7 derajat Celsius di atas normal pada Oktober-Desember 2026.

NUSAPERDANA.COM — Suhu permukaan laut di Pasifik tropis diproyeksikan menembus +3,7 derajat Celsius di atas normal pada Oktober-Desember 2026, level tertinggi sejak pencatatan dimulai. World Meteorological Organization (WMO) menyebut fenomena El Nino ini berpotensi menjadi yang terkuat setidaknya sejak 1950 dan bertahan hingga Februari 2027.

World Meteorological Organization (WMO) merilis Pembaruan Iklim Musiman Global bulanan terbaru yang menempatkan El Nino sebagai ancaman iklim utama dunia. Lembaga di bawah PBB itu menyatakan suhu permukaan laut di Pasifik tropis bagian tengah dan timur akan melonjak mencapai rekor tertinggi pada periode Oktober, November, dan Desember 2026.

Lonjakan suhu tersebut mencerminkan penguatan fenomena El Nino yang diprediksi merombak pola cuaca global. Dampaknya menjalar ke ekonomi, ekosistem, hingga kehidupan masyarakat di berbagai kawasan.

Anomali Suhu Nino 3.4 Tembus Rekor 2016

Indeks Nino 3.4, yang mengukur anomali suhu permukaan laut di jantung kawasan El Nino, meningkat tajam dari rata-rata +1,6 derajat Celsius di atas normal pada Juni 2026 menjadi +2,5 derajat Celsius pada Agustus lalu.

Untuk periode Oktober hingga Desember, rata-rata musiman anomali indeks ini diproyeksikan meroket ke sekitar +3,7 derajat Celsius dan memuncak pada Desember. Angka itu akan menjadi yang tertinggi sejak pengamatan dimulai.

Rekor sebelumnya tercatat +2,6 derajat Celsius pada periode November 2015 hingga Januari 2016. Artinya, proyeksi kali ini jauh melampaui level El Nino terkuat yang pernah terukur satu dekade silam.

Peluang Bertahan Nyaris 100 Persen hingga Februari 2027

Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo menegaskan El Nino saat ini telah terbentuk dengan sangat kuat dan terus menguat cepat. Proyeksi WMO menunjukkan peluang mendekati 100 persen fenomena ini bertahan hingga Februari 2027.

"Prakiraan WMO menunjukkan kemungkinan mendekati 100 persen bahwa fenomena ini akan bertahan hingga Februari 2027, yang berpotensi menjadi salah satu yang terkuat setidaknya sejak tahun 1950," papar Saulo.

Angka kepastian itu bukan berasal dari satu model tunggal. WMO mencatat proyeksi tersebut merupakan konsensus dari 13 pusat pemantauan nasional dan internasional, mulai dari Washington, Tokyo, London, hingga Pune.

Kesimpulan itu dibangun dari pertukaran data real-time pelampung laut, satelit, dan radiosonde yang dikoordinasikan WMO.

Mekanisme Pelepasan Panas Lautan

Berbicara di Global Heat Forum di Bangkok, Saulo menjelaskan El Nino tidak menambah panas baru ke planet ini. Fenomena itu melepaskan panas yang telah tersimpan di bawah permukaan laut.

"El Nino tidak menambahkan panas baru ke planet ini. Ia melepaskan panas yang telah disimpan oleh lautan di bawah permukaan, yang merupakan alasan mengapa peristiwa yang kuat begitu sering menjadi salah satu tahun terpanas yang pernah diukur seperti halnya tahun 2024," tuturnya.

"Lautan yang menjadi tempat penarikan panasnya adalah yang terhangat yang pernah kita ukur. Sederhananya, ada lebih banyak panas yang tersedia untuk dilepaskan."

Tekanan Ganda dari Samudra Hindia dan Atlantik

Selain Pasifik, cekungan samudra lain turut berkontribusi pada prospek iklim musiman. Dipol Samudra Hindia (IOD) yang positif diperkirakan mencapai puncaknya pada Oktober lalu perlahan menurun.

Anomali musiman IOD untuk Oktober hingga Desember diproyeksikan berada di sekitar +0,5 derajat Celsius. Pola ini dapat sangat memengaruhi curah hujan di sekitar Samudra Hindia.

Laporan Pembaruan Iklim Musiman Global juga mencatat suhu permukaan laut di cekungan khatulistiwa Atlantik diperkirakan tetap berada di atas batas normal. Kombinasi tiga cekungan samudra ini memperkuat risiko kekeringan dan banjir parah di berbagai kawasan.

WMO menyatakan El Nino kemungkinan besar membawa suhu di atas rata-rata ke sebagian besar belahan bumi sekaligus menggeser pola curah hujan. Pembaruan ini melengkapi Pembaruan El Nino/La Nina WMO yang diterbitkan setiap kuartal.

Sumber: cnbcindonesia.com

Follow finance.nusaperdana.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks