PMI Manufaktur RI Kembali Ekspansi ke 52,4, Surplus Dagang USD7,25 Miliar
NUSAPERDANA.COM — Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Indonesia melesat ke level 52,4 pada September 2026 dari posisi 49,8 pada Agustus, menandai kembalinya aktivitas industri ke zona ekspansi. Lonjakan ini ditopang pertumbuhan pesanan baru tercepat sejak Februari 2026 dan pesanan ekspor tertinggi sejak Mei 2022. Pemerintah menilai momentum awal Triwulan IV ini perlu dijaga agar manfaatnya meluas ke daya beli masyarakat.
Data Kementerian Keuangan yang dipaparkan pada Rabu (7/10) menunjukkan tiga indikator utama perekonomian menguat bersamaan: aktivitas manufaktur, kinerja ekspor-impor, dan stabilitas harga. Ketiganya menjadi fondasi penting bagi pelaku usaha dalam menyusun rencana produksi dan investasi hingga akhir tahun.
Manufaktur Bangkit, Pesanan Baru Jadi Motor Utama
Kenaikan PMI manufaktur ke 52,4 dari 49,8 pada Agustus menandakan sektor industri kembali membukukan ekspansi setelah sebelumnya terkontraksi. Pendorong utamanya adalah pertumbuhan pesanan baru yang tercepat sejak Februari 2026, seiring membaiknya daya beli dan masuknya proyek-proyek baru.
Pesanan ekspor juga mencatatkan level tertinggi sejak Mei 2022, memberi sinyal bahwa permintaan dari pasar luar negeri kembali bergairah. Kombinasi permintaan domestik dan eksternal ini menjadi modal bagi industri pengolahan untuk menaikkan utilisasi pabrik pada kuartal terakhir tahun.
Surplus Dagang USD7,25 Miliar Ditopang Hilirisasi
Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia membukukan surplus kumulatif USD7,25 miliar sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Tiga komoditas utama menjadi penopang:
- Besi dan baja: USD19,18 miliar, tumbuh 4,88 persen
- CPO dan turunannya: USD17,75 miliar, naik 6,57 persen
- Batu bara: USD16,58 miliar, tumbuh 4,31 persen
Ekspor industri pengolahan mencatatkan kenaikan 6,62 persen sebagai dampak positif program hilirisasi. Angka ini menunjukkan pergeseran bertahap dari ekspor bahan mentah ke produk bernilai tambah yang lebih tinggi.
Di sisi impor, bahan baku dan penolong mendominasi dengan nilai USD133,38 miliar, disusul barang modal USD36,74 miliar. Keduanya menyumbang 91,3 persen dari total impor. Kenaikan impor mesin dan peralatan mekanis sebesar 15,26 persen serta peralatan elektrik 22,94 persen menandakan peningkatan kebutuhan input produksi dan investasi domestik.
Inflasi Terkendali, tapi Harga Pangan Masih Jadi PR
Pada indikator harga, inflasi September 2026 terjaga di 3,28 persen (yoy), masih dalam rentang target nasional 2,5 plus minus 1 persen. Inflasi inti melandai ke 2,84 persen (yoy), sementara komponen harga yang diatur pemerintah turun menjadi 3,25 persen (yoy).
Yang perlu dicermati, inflasi pangan bergejolak masih menembus 5,03 persen (yoy). Tekanan datang dari dinamika permintaan serta penurunan produksi sejumlah komoditas hortikultura akibat cuaca ekstrem, El Nino, dan bencana alam.
Respons Pemerintah dan Langkah Lanjutan
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menyatakan pemerintah akan menjaga momentum penguatan ekonomi dengan fokus pada daya beli, investasi, dan daya saing industri.
"Ke depan, kebijakan Pemerintah akan tetap diarahkan untuk menjaga daya beli, mendorong investasi dan produksi, serta meningkatkan daya saing industri nasional. Dengan fondasi stabilitas yang terjaga dan aktivitas ekonomi yang kembali menguat, kita ingin memastikan momentum ini berlanjut dan memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat," kata Haryo.
Khusus untuk menekan gejolak harga pangan, pemerintah mempercepat penyaluran PKH Tahap III, melanjutkan Bantuan Pangan Beras 10 kg per bulan untuk periode Oktober hingga Desember 2026, serta mengoptimalkan operasi Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras medium melalui Perum Bulog dan Gerakan Pangan Murah.
Apa Artinya bagi Pelaku Usaha dan Investor
Bagi emiten di sektor industri pengolahan dan komoditas, kombinasi PMI ekspansif dan surplus dagang yang konsisten memberi ruang positif untuk kinerja kuartal IV. Permintaan ekspor yang kembali naik, terutama untuk besi-baja, CPO, dan batu bara, berpotensi menopang pendapatan perusahaan-perusahaan terkait.
Namun, pelaku usaha tetap perlu mengantisipasi tekanan pada harga pangan yang bisa menggerus daya beli konsumen kelas menengah bawah. Program bantuan pangan yang dipercepat pemerintah menjadi penopang sementara, tetapi solusi struktural untuk produksi hortikultura masih dibutuhkan agar inflasi pangan bergejolak tidak berlanjut ke kuartal berikutnya.