IHSG Rawan Koreksi ke 5.850, BBCA hingga GGRM Masuk Rekomendasi Analis

Papan digital menampilkan pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia.
Penulis: Yasir
Senin, 05 Oktober 2026 | 06:42:00 WIB

NUSAPERDANA.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi terkoreksi ke rentang 5.850–5.911 pada perdagangan awal pekan ini setelah secara mingguan masih tertekan 3,28%. Dua sekuritas merilis rekomendasi saham yang bisa dicermati investor, mulai dari BBCA, ASII, MDKA, hingga GGRM dan ISAT.

MNC Sekuritas memperkirakan posisi IHSG saat ini masih berada dalam bagian wave c dari wave (y), sehingga ruang koreksi lanjutan tetap terbuka. Level support indeks diproyeksikan berada di kisaran 5.949–5.872, sementara resistance di rentang 6.187–6.297.

Pada perdagangan Jumat (2/10), IHSG ditutup menguat 0,46% ke level 6.036 dengan volume perdagangan yang tinggi. Meski begitu, secara akumulasi sepekan indeks masih turun 3,28% dan sudah berada di bawah moving average 20 minggu.

Target Koreksi IHSG Menurut MNC Sekuritas

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyebut area koreksi yang perlu dicermati berada di rentang 5.850–5.911. Posisi tersebut menjadi acuan bagi investor untuk menentukan titik masuk pada saham-saham yang masuk radar trading.

"Cermati area koreksi yang dapat kami perkirakan di rentang 5.850–5.911," tulis Herditya dalam risetnya, Senin (5/10).

Dari daftar rekomendasi, MNC Sekuritas menempatkan GGRM sebagai pilihan trading buy dengan akumulasi beli di rentang Rp 16.675–Rp 16.850. Target harga dipasang di Rp 17.575–Rp 18.250, sedangkan level stoploss berada di bawah Rp 16.575.

Untuk ISAT, rekomendasi yang diberikan adalah buy on weakness pada area Rp 2.110–Rp 2.180. Target harga dipatok Rp 2.400–Rp 2.480 dengan stoploss di bawah Rp 2.050.

Sentimen Global: Data Tenaga Kerja AS dan Harga Minyak

Phintraco Sekuritas mencatat Wall Street ditutup menguat pada Jumat (2/10) setelah data nonfarm payrolls (NFP) AS berada di bawah ekspektasi. Penambahan tenaga kerja AS hanya 29.000 pada September, melambat dari 133.000 pada Agustus dan jauh di bawah estimasi 90.000.

Tingkat pengangguran AS naik menjadi 4,2% dari sebelumnya 4,1%. Data ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed punya ruang untuk mempertahankan suku bunga pada bulan ini.

Meski Wall Street menguat, indeks ditutup di bawah level tertinggi intraday setelah imbal hasil US Treasury kembali naik usai sempat melemah. Harga minyak juga turun seiring rencana negara-negara G7 melepas 100 juta barel cadangan minyak dalam empat bulan ke depan.

Harga emas spot turun 0,8% menjadi US$ 4.145 per troy ounce pada 2 Oktober, tertekan penguatan dolar AS dan imbal hasil US Treasury. Pasar masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah serta pergerakan pasar obligasi pemerintah.

Agenda Data Domestik Pekan Ini

Phintraco Sekuritas menyebut investor akan mencermati sejumlah data ekonomi domestik pekan ini. Cadangan devisa dirilis 7 Oktober, indeks keyakinan konsumen pada 8 Oktober, lalu data penjualan ritel dan penjualan otomotif pada 9 Oktober.

Dari eksternal, risalah rapat FOMC dijadwalkan rilis Rabu (7/10). Investor mencari petunjuk arah kebijakan moneter The Fed setelah data inflasi PCE dan NFP berada di bawah ekspektasi.

"Serta pernyataan dovish dari beberapa pejabat the Fed telah menimbulkan harapan the Fed akan pertahankan suku bunga pada Oktober," tulis Phintraco dalam analisisnya, Senin (5/10).

Rekomendasi Saham dan Proyeksi IHSG

Secara teknikal, indikator Stochastic RSI membentuk golden cross di area oversold. Histogram MACD masih berada di area negatif, tetapi IHSG ditutup di atas MA3.

"Diperkirakan IHSG sideways cenderung menguat pada kisaran 6.000-6.200 pekan ini," tulis Phintraco.

Phintraco Sekuritas merekomendasikan lima saham untuk dicermati pekan ini:

  • PT Astra International Tbk (ASII)
  • PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)
  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
  • PT Barito Pacific Tbk (BRPT)
  • PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)

Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Artikel ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.

Reporter: Yasir