25,8% Anak Indonesia Tumbuh Tanpa Peran Ayah, Beban Ekonomi Jangka Panjang Mengintai
NUSAPERDANA.COM — Sebanyak 25,8% anak di Indonesia mengalami kondisi fatherless, atau setara satu dari empat keluarga, berdasarkan data Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN. Angka itu bukan sekadar potret ketiadaan sosok ayah di rumah, melainkan hilangnya keterlibatan emosional yang berdampak pada kemampuan kognitif, pendidikan, dan kesehatan mental anak. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menekan kualitas tenaga kerja dan produktivitas ekonomi nasional.
Secara fisik, absennya ayah bisa disebabkan kematian, perceraian, atau jarak tempat tinggal karena tuntutan pekerjaan. Namun, ada pula anak yang tinggal satu atap dengan ayahnya tetapi berjarak secara emosional dan sosial. Pola pengasuhan yang keliru dan tekanan kerja menjadi pemicu utama kondisi semacam ini.
Kekosongan Relasional dan Dampaknya pada Perkembangan Anak
Ketiadaan keterlibatan ayah menciptakan kekosongan relasional yang mengurangi stimulasi, dukungan, pengawasan, dan sumber daya emosional bagi anak. Kondisi itu meningkatkan risiko masalah sosial-emosional pada masa pertumbuhan. Kajian terhadap 24 studi longitudinal oleh Sarkadi dkk (2007) menemukan keterlibatan ayah berkorelasi positif dengan perkembangan kognitif dan berkurangnya masalah perilaku anak.
Studi Cano (2019) terhadap 3.273 anak di Australia menunjukkan waktu berkualitas antara ayah dan anak dalam aktivitas pendidikan berkaitan dengan peningkatan kemampuan kognitif. Temuan ini menegaskan kualitas interaksi lebih menentukan dibandingkan sekadar jumlah waktu kebersamaan.
Penelitian longitudinal terhadap 2.000 anak di Cina pada 2021 juga menemukan ketidakhadiran ayah berkaitan dengan pencapaian pendidikan yang lebih rendah. Keterlibatan ayah terbukti berhubungan dengan hasil akademik lebih baik, termasuk kemampuan membaca, matematika, dan rendahnya kemungkinan tinggal kelas.
Meski demikian, fatherlessness bukan satu-satunya penyebab rendahnya pendidikan anak. Kemiskinan, kualitas sekolah, tingkat pendidikan orang tua, dan lingkungan keluarga turut berpengaruh terhadap capaian akademik.
Kaitan dengan Human Capital dan Produktivitas Generasi Berikutnya
Perkembangan kognitif dan non-kognitif anak merupakan bagian dari pembentukan human capital. Bank Dunia menempatkan perkembangan anak sebagai fondasi utama human capital, di mana kualitas kesehatan dan pendidikan masa kanak-kanak menentukan produktivitas generasi pekerja berikutnya.
Ekonom peraih Nobel Gary Heckman menunjukkan keterampilan terbentuk secara kumulatif. Kemampuan yang diperoleh pada tahap awal kehidupan meningkatkan produktivitas investasi pendidikan dan keterampilan pada tahap berikutnya. Anak yang mengalami hambatan dalam pendidikan, kemampuan sosial, regulasi emosi, dan keterampilan kognitif berpotensi menghadapi konsekuensi jangka panjang di pasar kerja.
Fatherless bukan hanya persoalan psikologi keluarga, tetapi juga persoalan pembangunan sumber daya manusia jangka panjang. Kualitas pengasuhan hari ini menentukan kualitas tenaga kerja dan produktivitas ekonomi pada masa depan.
Kerugian Ekonomi yang Harus Ditanggung Negara
Dampak fatherlessness terhadap perkembangan pendidikan berujung pada terganggunya produktivitas dan munculnya biaya sosial-ekonomi pada skala lebih besar. Potensi kerugian yang muncul meliputi:
- Pencapaian pendidikan yang lebih rendah
- Kemampuan kerja dan produktivitas yang tidak optimal
- Peluang pendapatan yang lebih rendah sepanjang hidup
- Meningkatnya kebutuhan intervensi sosial dari negara
- Persoalan kesehatan mental dan sosial yang membebani layanan publik
- Reproduksi ketimpangan antar generasi
Biaya fiskal dari kondisi ini tidak hanya ditanggung keluarga, tetapi juga negara melalui anggaran kesehatan, pendidikan, dan perlindungan sosial. Investasi pada pengasuhan dan keterlibatan ayah dalam tumbuh kembang anak menjadi salah satu kunci menjaga kualitas modal manusia Indonesia ke depan.